Cerpen part 5

“Udah! Ayo cepet berangkat!” teriak Qia.

Rio melirik jam di atas meja Qia. Sudah lewat empat puluh lima menit dari pukul tujuh. Rio berbalik dan tersenyum menatap Qia dan mendapati wajah cemas Qia.

“Ayo Rio tunggu apalagi ayo berangkat…”

“Berangkat kemana?”

“Sekolah… Gak liat seragamku?”

Rio mendekat dan mengelus rambut panjang nan lembut Qia. Membuat hatinya berdesir.

“Coba kamu liat jam imut kamu di atas meja itu,” katanya lambut. Qia melongo dan di dudul cemberutnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur lagi. Mendengus, dan menutup matanya. Pemandangan yang menurut Rio, mengundang tiap laki-laki yang menatapnya untuk berbuat macam-macam terhadapnya. Qia. Yang begitu hebat dan kokoh di depan semua orang, bisa menjadi apa adanya dan begitu ceroboh di hadapannya. Ia hanya tersenyum lembut.

“Jalan aja yuk?” ajak Rio berusaha mengusir pikiran-pikiran di otaknya. Bagaimanapun juga ia kan laki-laki normal juga.

“Kemana?” desah Qia.

“Kemanapun kamu mau.”

Qia melonjak tiba-tiba, dan duduk bersilang. Ia tampak berfikir.

“Aku mau pergi jauh, Rio. Jauh dari rumah ini dan dari papa mamaku.”

“Kenapa lagi?” Rio tahu ada lagi masalah yang menimpa sahabatnya itu. Sejak lama ia memang di percaya menyimpan semua rahasia Qia, tanpa kecuali.

“Mereka nyebut-nyebut Imam lagi. Aku muak! Namanya aja Imam. Tapi kelakuan bejat. Napa gak di kasih nama bejat aja ya?”

Rio mengelus rambut Qia.

“Aku bisa bantu apa?”

“Bawa aku pergi, Yo.”

Rio menatap mata yang memandangnya begitu dalam. Ingin rasanya ia memeluknya, menyatakan cintanya dan mengatakan bahwa ia akan membawanya pergi kemanapun Qia inginkan. Tapi hal ini akan merusak persahabatan mereka bertahun-tahun ini. Dan ia lalu mengembangkan senyum terbaiknya, seceria mungkin.

“Yuk,” katanya sambil menarik tangan Qia yang membuat mata redupnya kembali cerah.

Rio membawanya melaju dengan motor Ninja kesayangannya. Ia merasakan bahwa tangan Qia melingkar erat di sekeliling tubuhnya, dan menyandarkan kepalnya di punggungnya. “Begini saja cukup,” batinnya. “Gak perlu kamu jadi pacarku, asal kamu terus ada disampingku dan bisa ku jaga.”

Selama perjalanan, Qia menutup matanya. Merasakan tiap desir angin yang membuatnya nyaman. Ia percayakan setiap hal pada Rio.

Ternyata Rio membawanya ke sebuah taman bunga yang saat itu sedang di tumbuhi berbagai macam bunga yang bermekaran dengan subur dan indahnya. Berbagai warna dapat dilihat disana. Dan sekali lihat saja, Qia sudah tersenyum.

“Ya ampun, Yo. Kamu kok tau banyak sih tempat-tempat bagus kayak gini? Ketauan deh kamu banyak pacar makanya tempat yang kamu tau romantis-romantis gini. Hahaha…”

“Gak lah… Aku tuh kalo lagi ada masalah senengnya jalan-jalan sendiri aja naek motor kemana-mana, cari tempat-tempat yang aku gak tau. Dengan begitu kan aku jadi ngelupain masalah aku kan? Yang ada aku malah inget-inget jalan kalo udah nemu tempat bagus. Hehehe…”

“Iya juga, Yo. Pinter banget kamu. Kok tumben? Salah minum obat ya? Hahaha…”

“Tega amat sih kamu?”

“Hahaha… Ngomong-ngomng tempat ini ada yang punya gak sih?”

“Setau aku sih gak ada. Liat aja rumputnya banyak begini gak kerawat.”

“Hmm… Sayang ya nganggur gini padahal tanahnya subur. Bunga-bunganya cantik banget. Kira-kira papa mau gak ya kalo aku minta beli tanah ini?”

“Ya mau lah kalo kamu juga mau dinikahin sama Imam. Hahaha…”

Qia mengambil batu kecil yang berada didekatnya. Puk, ia melempar Rio dengan batu yang dipungutnya.

“Dasar jelek! Daripada dengerin orang jelek ngomong mendingan metikin bunga cantik deh!”

“Hahaha…” Rio hanya tertawa.

Qia tampak sibuk sekali memetik hampir semua bunga yang memiliki warna yang berbeda-beda. Rio hanya tersenyum melihat tingkahnya sahabatnya itu. Karena Qia tampak seperti anak kecil, memetik bunga sambil bersenandung kecil dan sesekali menari-nari. Langit memang tampak sedikit mendung. Dan secara tiba-tiba, mereka diguyur hujan. Rio segera berlari ke arah Qia, menutupinya dengan jaketnya.

“Qi, sini pake jaketku nanti kamu sakit. Terus naik motor deh kita cari tempat supaya kamu gak keujanan ya nanti sakit!”

Tanpa menjawab Qia langsung menyambar jaket Rio dan berlari ke arah motor yang diikitu oleh Rio yang dengan sangat tergesa menghidupkan motornya dan segera melaju.

Kira-kira lima menit kemudian, motor Rio berhenti. Qia mengintik dari balik jaket Rio yang menutupi secara sempurna bagian kepalanya. Qia melihat sebuah bangunan kecil yang berkesan minimalis. Tanpa pikir panjang Qia langsung turun dan berteduh dibawah atapnya. Namun tiba-tiba ia tersadar bahwa itu adalah sebuah penginapan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s