Cerpen part 7

“Maaf ya tadi aku ngaku-ngaku pacar kamu. Biar dia gak semena-mena sama kamu karena ada yang jaga.”

“Iya aku ngerti, makasih banget ya udah belain aku.”

“Orangtua kamu gak tau gimana keadaan laki-laki yang mau dinikahin sama kamu?”

“Ya enggak, orang orangtua dia aja gak tau kok gimana kelakuan dia gimana.”

“Kamu mau aku bantu ngomong sama orangtua kamu?”

“Kenapa? Gak akan didenger kayaknya, aku anaknya aja gak didenger…”

”Hmm… Kamu mau kabur sama aku?”

“Hah? Dasar gila!”

“Bukan maksud apa-apa, tapi bisa aja setelah kamu kabur kamu jadi lebih di denger, gimana?”

“Tapi kalo malah lebih parah dimarahinnya gimana?”

“Yah ntar aku yang tanggung jawab deh nikahin kamu!”

“Enak aja! Emang aku hamil!”

“Hahaha…”

“Gak deh kayaknya, kabur bukan gayaku. Hahaha… Gaya.”

“Ya udah terserah kamu aja. Eh, udah gak ujan tuh. Kamu mau pulang? Udah sore banget juga. Tapi kita makan dulu ya ntar kamu sakit.”

“Iya… Tapi kali ini aku yang bayar ya? Kamu udah banyak!”

“Siiip…”

Rio mengenakan kembali pakaiannya yang masih basah. Dalam perjalanan kali ini, Qia merasa benar-benar nyaman dengan Rio. Qia memberanikan diri memeluk Rio dari belakang.

“Cieelah… Tumben meluk, jatuh cinta kamu sama aku?”

“Dingin tau!” bela Qia.

“Jatuh cinta juga gak apa-apa.”

“Nanti aku patah hati sama kamu setelah kamu tau yang mau aku ceritain.”

“Emang separah apa sih? Udel kamu bodong? Apa rambut kamu itu palsu aslinya kamu botak? Hahaha…”

“Hmm…” Qia tidak tertawa yang meyakinkan Rio bahwa Qia akan mengatakan sesuatu yang serius, hingga Rio pun menjadi serius.

“Kenapa, Qi?”

“Aku udah gak perawan, Yo?”

“HA???” Rio berhenti mendadak. Setelah bengong sesaat, Rio tertawa terbahak.

“Bercanda kamu…”

Qia menunduk dalam. “Aku diperkosa Imam.”

“HA???” Rio makin kaget yang membuatnya turun dari motornya.

“Dulu aku sempet jatuh cinta sama dia. Aku percaya sama dia. Aku pacaran sama dia kurang lebih satu tahun sebelum aku tahu gimana kelakuannya. Sampe…” kata-kata Qia terputus. Rio terdiam.

“Yo, aku bener-bener gak mau sampe nikah sama dia. Ini yang jadi alasan aku gak mau pacaran lagi. Aku trauma. Tapi aku gak tau gimana caranya lolos dari ini.”

“Kamu mau nikah sama aku?”

“HA???” gantian Qia yang kaget setengah mati.

“Aku sayang sama kamu udah lama kok.”

“Gak lucu tau, Yo. Aku gak perlu belas kasihan kamu! Aku cerita karena udah gak tahan aja sendirian. Aku gak nyangka kamu malah ngeledekin aku!” kata Qia marah.

“Enggak, aku beneran. Aku gak pernah nembak kamu karena aku tau persis kamu bakal nolak aku. Dan aku bener-bener gak mau persahabatan kita keganggu cuma karena masalah ini. Jadi selama ini aku simpen sendiri aja.”

“Kamu gak apa-apa sama keadaan aku?”

“Buat aku, hal itu gak berarti apa-apa. Aku cuma gak mau kamu nikah sama laki-laki brengsek kaya dia. Nanti bisa-bisa kamu kena AIDS lagi…” kata Rio mengubah suasananya menjadi cair lagi.

“Amit-amit!” kata Qia ditengah tawanya.

“Yuk ah pulang, aku mo lamar kamu!”

“Yuk!” Dan mereka pun kembali melaju.

Lagi-lagi Qia memejamkan matanya, namun kali ini karena ingin menghirup dalam-dalam aroma kebahagiaan yang ia dapatkan dari Rio. Rio, sahabatnya sejak masa kecil, tak disangka kini menjadi calon suaminya menggantikan posisi Imam. Rio sejuta persen lebih baik dari Imam tentunya. Dan bila orangtuanya masih saja menentangnya, kali ini ia akan benar-benar kabur bersama Rio.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Qia merasakan bahwa dirinya terlempar dari motor Rio. Tangannya perih terseret ketika menyentuh aspal. Kepalanya pusing. Dan ia langsung sadar, mereka kecelakaan. Ia segera mencari Rio. Ternyata disana juga ada mobil lain yang mungkin menyebabkan hal ini. Namun mobil itu tetap melaju. Rio terkapar ditengah jalan.

Sambil menangis, Qia berlari ketengah jalan. Jalan yang sepi, lagi-lagi kebiasaan Rio yang berjalan-jalan disaat banyak pikiran terjadi. Qia berteriak memanggil Rio, juga memanggil pertolongan. Tidak ada yang datang. Qia memeluk erat Rio sambil menangis dan menepuk-nepuk Rio, berharap ia membuka mata dan tertawa bahwa ia hanya bercanda. Tapi luka di kepalanya yang mengeluarkan darah tampak serius.

Tiba-tiba nafas Rio tersengal-sengal. Matanya memperlihatkan pergerakan. Qia menangis semakin deras. Ia mencium dahi Rio dengan semangat.

“Bangun, Rio. Nanti kita kabur bareng.”

Rio membuka matanya dengan lemah. Tersenyum.

“I love you, Qia.”

Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Tamat

2 thoughts on “Cerpen part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s