Wanita

Setelah menonton salah satu film buatan anak Indonesia, aku jadi termenung. Film itu berisi tentang perjalanan hidup beberapa wanita yang berbeda. 7 hati 7 cinta 7 wanita, atau, kurang lebih seperti itulah judulnya, film yang kutonton itu. Salah satu film yang bikin nangis, hahahaha…

Film itu pada akhirnya membuat aku berfikir tentang kehidupanku sendiri sebagai seorang wanita. Aku wanita. Dan semua yang diceritakan film itu, bisa jadi kualami di kemudian hari. Pola pikir dr. Kartini yang ada di sana, kurang lebih sama seperti pola pikirku selama ini.

Wanita. Bagaimanapun juga akan selalu menjadi korban laki-laki. Yah, walaupun laki-laki tidak semua sama, tapi sebagian besar bisa di prediksi lewat buku-buku tentang laki-laki, dan juga dalam majalah-majalah khusus wanita.

Bagaimanapun juga, seorang wanita akan terus menjadi pihak yang bersalah. Seorang janda akan selalu terlihat negatif walaupun alasan cerai mereka karena ia mengalami KDRT. Ia akan selalu dipandang sebelah mata walaupun sebenarnya ia menahan derita hati karena suaminya selingkuh dengan wanita lain yang lebih muda. Ia akan tetap dipandang sebagai wanita yang tidak bisa mengurus suami hingga suaminya selingkuh walaupun sebenarnya tiap malam ia tidur larut menunggu suaminya pulang kerja. Pulang kerja, atau menghabiskan waktu dengan wanita lain.

Seorang wanita, akan selalu terlihat sebagai wanita murahan ketika ia menyerahkan mahkotanya kepada laki-laki bajingan yang ia cintai sepenuh hati yang pada akhirnya meninggalkannya. Kepada laki-laki yang meminta bukti cinta yang tidak pernah ia sendiri penuhi ketika meninggalkan wanita yang telah memberikan bukti cintanya bahkan ketika wanita itu mengandung anaknya sendiri, masih bisa ia mengatakan bahwa anak itu bukan anaknya.

Seorang laki-laki yang memiliki istri seorang wanita sholehah masih bisa memiliki wanita lain diluar sana hanya karena belum memiliki keturunan. Wanita selalu menjadi yang bersalah ketika rumah tangga belum dikaruniai anak. Padahal bila wanita bisa memilih, ia pasti juga akan menjerit meminta keturunan hingga ia tidak perlu menjadi yang bersalah, dan tidak perlu dimadu dibelakangnya.

Seorang pelacur akan selalu menjadi sampah masyarakat walaupun sebenarnya dirinya di jual oleh suaminya sendiri. Ia akan selalu menjadi binatang hina walaupun ia bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya. Ia akan selalu menjadi tertuduh ketika para laki-laki hidung belang berselingkuh di belakang istri-istrinya. Padahal tentu saja bukan salahnya. Para bajingan-bajingan itu kan yang mendekatinya? Ia hanya bekerja, mangkal, dan pada akhirnya para laki-laki itu yang mendatanginya. Jadi, sebenarnya siapa yang bajingan?

Maaf ya kalo tulisanku terlalu fulgar, hehehe… Curhat aja kok. Semoga gak ada pihak yang merasa disakiti dan dirugikan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s