Aku

Aku seorang ratu yang jatuh menjadi seorang pendamping. Kebersamaan kami hanya terasa seperti kewajiban semata, tak ada lagi cinta. Hanya sebuah hubungan yang masih terjalin karena sebuah ikatan. Setidaknya mungkin itulah yang ia rasakan, dan hatiku semakin lama semakin membeku karenanya. Kebekuan yang terus menerus terpupuk, membuatku hancur sedikit demi sedikit dari dalam. Sakit yang kurasakan begitu nyata di dada. Tak sedikit waktu aku terjatuh karena menahan sakit dan perih. Dulu kupikir ketika ada seseorang yang berkata bahwa dadanya terasa sakit karena cinta, itu hanya kiasan. Tapi ternyata sekarang aku malah merasakannya sendiri. Aku juga sering sakit-sakitan karena aku merasa kosong. Hidup bagiku hanyalah sebuah kewajiban yang harus kujalani sambil menunggu malaikat maut menjemputku. Karena itu, kadang aku merasa ingin mempercepatnya. Aku tak sabar lagi.

Dia tak lagi membiarkanku menemuinya untuk makan siang bersama. Padahal, dulu ia selalu menyempatkan diri untuk pulang dan menikmati makan siang bersamaku. Walaupun waktu istirahatnya hanya sekitar 60 menit, ia benar-benar datang untukku, untuk sekedar makan siang. Semakin lama, ia tak lagi meluangkan waktu untukku, dan aku pun mengalah. Aku yang pergi hanya untuk menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan menikmati makan siang bersamanya. Sedikit tawa untuk menghiburku di tengah hari yang dengan setia kuhabiskan untuk menunggunya di rumah tanpa ada kegiatan yang berarti.

Aku masih menangis, menagis dalam diam dan dalam jeritan yang tertahan. Kulirik jam di tanganku, sudah pukul 02.00 pagi dan ia masih saja sibuk dengan laptop dan pekerjaannya disampingku. Seingatku, aku menangis sejak pukul 21.10 tadi, dan hingga kini ia tak juga sadar. Walaupun aku berbaring membelakanginya, tidakkah ia melihatku terus maraihtissuedi meja sebelahku? Tidak melihat, atau tidak peduli.

Kurasakan ia bergerak mendekatiku dan mengintip memandang wajahku. “Matamu bengkak, ngantuk banget ya? Tidur aja gak usah tunggu aku,” katanya, mengelus rambutku dua kali, dan meneruskan pekerjaannya.

Aku tertawa dalam hati. Benarkah kantuk yang sangat dapat membuat mata seseorang menjadi bengkak?

Aku tidak tahan lagi. Aku segera beranjak dari tempat tidur. “Mau kemana?” tanyanya. Aku begitu membencinya hingga aku sama sekali tidak ingin menatap wajahnya. “Minum,” kujawab singkat sambil berlalu.

Alih-alih ke dapur, aku pergi ke kamar mandi. Kunyalakan shower dan berdiri dibawahnya. Dengan segera, aku merosot di dinding karena tak kuasa menahan beban di pundakku dan akhirnya aku duduk di lantai di bawah guyuranshower. Dinginnya air segera merasuk dalam pori-pori pakaian yang melekat di tubuhku. Dibawah gemericik air, ahirnya aku bisa mengeluarkan suara tangisku yang sudah membuatku sesak nafas.

Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan menangis disana, hingga akhirnya kuputuskan untuk mengambil air suci untuk tahajud. Baru rukuk, sudah tak tahan lagi menangis. Air mata ini keluar begitu saja tanpa sempat kutahan. Entahlah shalatku sah atau tidak, yang jelas ini caraku untuk mengadu padaNya. Pada saat sujud terakhirku, aku benar-benar sudah kehilangan kendali. Aku terisak bagai anak kecil merengek pada orang tuanya. Tuhan, sakit ini begitu nyata, sedangkan kuyakin tak ada satu pun yang terjadi tanpa izinMu. Mengapa Kau berikan dia untuk menyakitiku?

Aku merasa sedikit tenang pada akhirnya. Aku masuk kembali dalam kamar dan melihatnya  sudah lelap tertidur dengan ekspresi polosnya. Aku jijik melihatnya. Bisa-bisanya ia tertidur lelap tanpa sadar sedikitpun bahwa ia sudah menyakitiku. Aku mendekatinya, menatapnya. Dan rasa sakit menyerangku lagi. Tuhan… Ternyata aku masih sangat mencintainya. Perlahan aku mendekatinya, dan mencium bibirnya. Bibir yang seharusnya milikku, yang sudah berbulan-bulan ini tak pernah kurasakan. Aku lupa betapa lembutnya bibirnya. Perasaan marah menguak begitu saja. Aku tak ingin melihatnya, tak ingin menyentuhnya, dan tak ingin berada di dekatnya. Aku muak masih mencintainya!

Aku kembali keluar. Aku merebahkan diriku di kamar lain. Aku kembali menangis. Adakah di luar sana laki-laki yang benar-benar baik untukku? Tidakkan Tuhan memberiku laki-laki yang lebih baik dari ini? Aku terus menangis hingga azan shubuh terdengar. Aku tertawa. Mungkin aku bisa memecahkan rekor sebagai orang yang menangis paling lama di dunia.

Tanpa terasa ternyata aku tertidur. Aku terbangun setelah mendengar azan dzuhur. Rekor baruku terpecahkan. Aku tak ingin repot-repot mencarinya, toh ia tidak mencariku. Hari ini hari Minggu. Aku tak ingin tahu apa yang sedang dilakukannya. Kugapai handphone dan terdapat dua buah sms darinya. Entah megapa tidak ia hampiri saja aku. “Kamu belum bangun?” dan “Mau makan diluar gak?”

Aku terbangun dengan perasaan aneh, terasa ada yang mengganjal di mataku. Aku berjalan dengan malas ke arah cermin dan melihat pantulan wajahku. Aku tersenyum miris. Pantas saja terasa aneh, mataku sama besarnya dengan bola tenis. Bengkak, merah, dan membuatku terlihat sipit. Aku membuat ekspresi-ekspresi lucu dengan wajahku sendiri, untuk memaksaku tertawa. Mentertawai hidupku sendiri, dan kelemahan yang aku punya.

Aku pergi ke belakang. Aku mencuci pakaian. Di hari Minggu, aku mencuci. Mencuci sekedar membuang waktuku, menyibukkan diriku, agar tak perlu bertemu dengannya. Pandangan mataku kembali kabur. Ah, sial. Ini hari Minggu!!! Liburlah menangis sehari saja…

Usai mencuci aku masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku yang penuh peluh. Penuh luka. Andai saja semua perih ini bisa hanyut terbawa air…

Aku tak juga kunjung melihatnya berkeliaran. Ah, pasti ia sedang bermalas-malasan di tempat tidur. Aku melanjutkan aktivitasku dengan menyapu seluruh rumah, mengepel, kecuali kamar itu tentunya. Belum puas, aku kemudian mencuci piring. Saat itulah ia datang, memelukku dari belakang, dan mencium leherku.

“Kamu kenapa sih? Marah? Makan yuk diluar? Udah siang, emang kamu gak laper?” tanyanya.

Aku benar-benar tak ingin memandangnya, dan dengan menunduk aku menjawab, “Yaudah,” lalu bergegas berganti baju, di kamar tempatku tidur semalam.

Beberapa menit kemudian, aku sudah melaju bersamanya ke mall terdekat. Aku tahu kali ini ia tahu aku marah, karena ia tak lagi banyak bicara. Selama makan bersama pun, aku mengunci mulutku rapat-rapat dari pembicaraan, berbeda dari aku yang biasanya ramai berceloteh dan mengomentari apapun yang kulihat.

Usai semua makanan habis tanpa sisa, ia menatapku serius dan dengan nada rendah bertanya, “Kamu marah kenapa?”

“Kamu pasti tahu.”

“Pasti masalah itu.”

“Dari dulu masalahnya juga memang cuma itu, kan?”

Ia terdiam.

“Aku sudah tidak bahagia sama kamu lagi,” lanjutku.

“Kamu sering bilang begitu, tapi cuma bertahan beberapa hari dan pada akhirnya kembali ke pelukanku.”

“Kali ini enggak.”

“Kenapa?”

“Buat apa pertahanin cinta tapi gak bahagia? Aku masih cinta kamu tapi aku gak mau gak bahagia sampai tua. Emang kamu masih cinta sama aku?”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu gak pernah mau lagi kucium? Kenapa kamu gak pernah lagi mau kuajak berhubungan badan? Kamu jijik sama aku? Kamu benci sama aku karena gak bisa kasih kamu anak?”

“Aku juga tidak inginkan anak.”

“Lalu kenapa?”

Ia kembali terdiam. Aku beranjak dan ia mengikuti dari belakang. Aku sudah tak kuasa menahan tangis. Aku tak ingin lagi berada disini ketika air mataku pada akhirnya tumpah.

Sesampainya dirumah, aku segera berlari ke kamar tempatku tidur. Aku mengunci pintunya dan menangis sepuasku. Aku menagis terus menerus tak teringat waktu. Aku sama sekali tidak berniat keluar lagi dari kamr itu. Biar saja aku mati disini, terkunci sendiri. Aku terus menerus menangis hingga akhirnya tertidur dan lagi-lagi terbangun setelah mendengar adzan dzuhur keesokan harinya. Ah, lagi-lagi aku menangis gingga larut. Aku tak ingin repot-repot melihat pantulan wajahku di cermin. Aku juga tidak ingin beranjak dari tempat tidur yang saat ini sudah lembab oleh air mataku.

Pukul 19.00 akhirnya aku beranjak dari tempat tidurku, menuju kamar mandi untuk mengusir penat dengan siraman air dingin. Perutku perih karena seharian belum kuiisi makanan. Mungkin maagku kambuh. Karena itu aku memutuskan untuk membuat semangkuk mie instan. Dan beberapa saat kemudian aku mendengar suaranya datang, membuatku segera beranjak ke kamarku lagi, namun kali ini aku lupa mengunci pintuku.

Aku mendengar suaranya memasuki kamarku. Aku tak bergeming. Aku mendengarnya mengeluarkan laptopnya lagi. Ah, tak ada harapan untukku. Aku memutuskan untuk tidur. Dalam lelapku aku merasakan ia memelukku. Kulirik jam ditanganku, pukul 22.00.

“Kamu udah tidur ya?”

Aku mengangguk.

“Aku pergi dulu ya, mau nonton sama teman-teman.”

Aku berguling menghadapnya dan meraih tangannya. “Jangan,” bisikku lirih.

“Tapi udah janji, jangan marah ya” jawabnya.

Aku kembali berguling membelakanginya. Ia kemudian mengelus rambutku dua kali, kemudian aku mendengar suara pintu tertutup lagi. Hilang sudah segala kantuk, digantikan oleh air mata yang otomatis keluar. Aku menangis lagi. Hingga pukul 02.00 ia belum juga kembali. Kukirim beberapa pesan singkat, tak juga dibalasnya.

“Ah, betapa tak pentingnya diriku dibandingkan teman-temannya…” batinku. Tubuhku gemetar menahan segala emosi.

Aku beranjak ke kamar mandi, hendak mengguyur tubuhku lagi dengan air dingin. Aku tak ingin menangis lagi. Apapun akan kulakukan agar aku tak menangis lagi. Kunyalakan shower dan berdiri dibawahnya. Aku melihat ada sebuah pisau cukur miliknya disana. Aku benar-benar tak ingin menangis lagi. Aku meraihnya, dan menggoreskannya ke pergelangan tangan kiriku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s