Defa..

Tanganku menggapai-gapai, mencoba meraih telfon genggamku di samping tempat tidurku. Aku terlalu malas untuk membuka mata, dan ketika tanganku sudah mendapatkannya, mau tidak mau, aku membuka mata kananku untuk sedikit mengintip. Ah, sudah pukul 02.27 rupanya, tapi pikiranku masih saja melayang ke suatu tempat, membuat otakku tidak ingin bekerja walaupun aku sudah memerintahkannya demikian. Tubuhku sudah letih, mataku sudah perih, namun otakku tidak ingin bekerjasama untuk berhenti berfikir dan beristirahat. Sial..

Aku memutuskan untuk bangkit. Sia-sia aku memejamkan mata bila otakku mau terus bekerja. Baiklah, kalau begitu.. Kuberikan pekerjaan berat untukmu ya wahai otak.. Semoga kau lelah dan memberikanku sedikit waktu untuk beristirahat sebelum semua kesibukanku yang menjemukkan sebentar lagi..

Aku menyandarkan tubuhku ke sisi tempat tidur, mengambil sebuah buku yang belum selesai kubaca. Buku itu berisi cerita-cerita pendek yang ‘katanya’ mampu meningkatkan potensi dan semangat pantang menyerah. Aku bingung mengapa disebut demikian, karena tidak satupun cerita-cerita di dalamnya mampu aku mengerti. Oh, baiklah.. Mungkin buku itu mengajak pembacanya untuk pantang menyerah dalam memahami cerita-cerita di dalamnya, bukan?

Aku membuka buku tersebut pada halaman 80, dan membaca paragraf pertamanya. Ah, ya.. Betul sekali. Siang tadi aku baru selesai membaca sampai disini, mengenai dua ekor tupai bodoh yang mencoba untuk menghitung butiran salju yang ada pada sebuah pohon beringin yang besar.. Oh, well.. Baiklah.. Kali ini aku mengerti maksud ceritanya. Kedua tupai itu merasa bahwa sebutir salju tidak berarti hingga pada akhirnya pohon yang besar itu tiba-tiba tumbang karena butiran salju yang terakhir jatuh di dahannya. Cerita itu mengajarkan bahwa sekecil apapun itu, ketika terus dipupuk, pada akhirnya akan menjadi besar dan menjadi sesuatu yang berarti (Hartono, 2015). Ah, aku langsung menghubungkannya dengan dosa. Mungkin aku bukan orang yang sangat beragama, tapi aku takut Tuhan. Aku langsung memikirkan dosa-dosaku. Baiklah, akhirnya buku ini berfungsi untukku, menyadarkanku tentang dosa-dosaku. Entah sudah berapa banyak dosa yang kutumpuk itu, salju yang kutumpuk itu. Berapa lama lagi pohonku akan tumbang? Maksudku, berapa lama lagi waktuku untuk mempertanggung jawabkan tumpukan saljuku? Salju memang indah, sangat indah, walaupun aku belum pernah melihatnya secara langsung. Sama seperti dosa, bukan? Melakukan dosa lebih mudah dan lebih menyenangkan dibandingkan mengumpulkan kebaikan.

Ah, damn it! Otakku mulai lagi. Tidak bisakah otakku berteman denganku sekali saja? Aku benci hal ini, setiap kali ia muncul. Hal apapun bisa memberikan stimulus bagi otakku untuk memikirkan sesuatu yang tidak penting dan sangat ingin kutinggalkan. Memikirkan dosa saja, bisa memberikanku stimulus aneh yang memberikan sensasi panas di dada dan mataku. Dadaku panas dan nyeri, sementara mataku panas membendung air mata yang sudah tidak sabar ingin mengalir ke pipiku. Memang, seharusnya begitu.. Seharusnya itu yang aku rasakan setiap kali mengingat dosa. Tapi justru dosa itu malah memberikanku stimulus lain yang menyakitkan yang membuatku merasakan hal seperti in. Tolol.. Aku tolol sekali.. Aku benci saat ini terjadi. Aku benci diriku!

Aku menggigit bibir bawahku dan melempar bukuku. Aku memejamkan mataku, berusaha menahan bendungan air yang memberontak hendak keluar dari kelopak mataku yang kututup rapat-rapat. Tidak.. Tidak akan kubiarkan air mataku keluar lagi demi makhluk itu. Aku membeci diriku sendiri karena sudah memikirkannya lagi. Seharusnya saat ini aku menangis karena teringat dosaku, bukan? Lalu mengapa saat ini, ketika teringat dosa, secara otomatis otakku malah menghubungkannya dengannya, dan aku malah menangisinya? Bodoh.. Bodoh sekali aku.. Aku makhluk paling bodoh di alam semesta ini, hanya karena makhluk itu. Makhluk yang membuat hidupku berubah selamanya. Makhluk yang menjadikanku manusia yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Makhluk yang merenggut apa yang tersisa dari hidupku dan masa depanku. Makhluk yang menyakitiku sejadi-jadinya. Makhluk yang bisa datang dan pergi seenaknya tanpa pernah berpaling. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Hahaha..

Defa.. Makhluk terindah paling menjijikan yang pernah kutemui seumur hidupku, yang membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah terfikirkan olehku, yang bahkan membayangkannya saja tidak mungkin. Defa.. Makhluk perenggut hati yang lalu menghempaskannya begitu saja setelah ia merekatkan lem super canggih yang mampu membuat serpihan menjadi utuh untuk kemudian dihancurkannya lagi. Defa.. Sang dosa terindahku yang akan selalu kusesali, kurindukan, kubenci, kuharapkan, kucintai, kuhindari, dan kusyukuri ketidakberadaannya seumur hidupku. Bisakah kau sudah mati saja untukku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s